Disusun oleh: Irfan Pratama (NIM: 2410841003)
Program Studi: Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unand
Dosen Pengampu: Dr. Edi Hasymi, M.Si
Program MBG atau Makanan Bergizi merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mendukung pemenuhan gizi peserta didik selama menempuh pendidikan. Kehadiran program ini pada dasarnya bertujuan membantu anak-anak mendapatkan asupan yang cukup agar mereka dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik. Namun, muncul pertanyaan apakah program MBG perlu diberikan sampai jenjang SMA, atau justru lebih tepat jika hanya difokuskan pada jenjang SD dan SMP saja. Untuk menjawab hal tersebut, perlu dilihat bagaimana kondisi dan kebutuhan anak pada setiap jenjang pendidikan.
Pada jenjang Sekolah Dasar (SD), anak-anak berada pada masa pertumbuhan yang sangat pesat. Tubuh mereka berkembang dengan cepat, begitu juga dengan kemampuan otak yang mulai menyerap berbagai pengetahuan baru. Pada usia ini, anak-anak sangat bergantung pada asupan makanan yang diberikan oleh orang tua maupun lingkungan. Banyak anak masih belum mampu memilih makanan bergizi secara mandiri, sehingga risiko kekurangan gizi cukup tinggi. Kekurangan gizi pada usia ini dapat berdampak panjang, mulai dari gangguan pertumbuhan, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya kemampuan belajar di kelas. Karena itu, pemberian MBG pada jenjang SD menjadi sangat penting sebagai upaya memastikan bahwa anak-anak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk mendukung seluruh aspek pertumbuhan mereka.
Saat memasuki jenjang SMP, anak mengalami masa pubertas. Pada tahap ini, tubuh mereka kembali mengalami perubahan besar, baik secara fisik maupun emosional. Pertumbuhan tinggi badan kembali meningkat, kebutuhan energi bertambah, dan aktivitas belajar maupun kegiatan fisik semakin padat. Di sisi lain, remaja mulai memiliki kebiasaan makan yang berubah-ubah. Banyak dari mereka lebih sering membeli makanan di luar yang tidak selalu bergizi atau cenderung mengutamakan rasa daripada nilai nutrisi. Pada tahap ini, risiko anemia, terutama pada remaja perempuan, juga meningkat. Oleh sebab itu, keberadaan MBG di jenjang SMP tetap sangat relevan sebagai upaya menjaga kesehatan remaja, meningkatkan stamina belajar, dan mencegah masalah-masalah kesehatan yang bisa mengganggu kegiatan pendidikan mereka.
Berbeda dengan SD dan SMP, kondisi peserta didik di jenjang SMA tidak lagi berada pada fase pertumbuhan fisik yang kritis. Sebagian besar perkembangan tubuh sudah mendekati tahap akhir, sehingga pengaruh makanan bergizi terhadap pertumbuhan fisik tidak sebesar sebelumnya. Siswa SMA juga cenderendah mampu memilih makanan yang ingin mereka konsumsi. Mereka sudah memahami pilihan yang tersedia, meskipun tidak selalu berarti mereka membuat pilihan yang paling sehat. Namun jika dilihat dari sisi kebutuhan tumbuh kembang, usia SMA bukan lagi masa yang paling membutuhkan intervensi gizi dari pemerintah. Dampak pemberian MBG pada jenjang ini lebih kecil bila dibandingkan dengan manfaat yang diterima oleh anak SD dan SMP.
Selain itu, pemberian MBG hingga SMA memerlukan anggaran yang tidak sedikit. Jika program ini dibagi merata hingga tingkat SMA, maka jumlah bantuan yang seharusnya diprioritaskan pada usia yang paling membutuhkan bisa berkurang. Dengan berbagai keterbatasan sumber daya, penetapan skala prioritas menjadi hal yang penting. Fokus pada SD dan SMP berarti pemerintah mengarahkan bantuan gizi kepada mereka yang benar-benar berada pada tahap pertumbuhan kritis, sehingga hasil yang dicapai juga lebih maksimal.
Kebijakan yang memusatkan MBG pada jenjang SD–SMP bukan berarti mengabaikan siswa SMA. Namun, langkah ini lebih menunjukkan bahwa setiap usia memiliki kebutuhan yang berbeda, dan usia SD–SMP adalah kelompok yang paling diuntungkan dari intervensi gizi. Sementara siswa SMA masih memerlukan makanan bergizi, kebutuhan mereka tidak lagi berada pada tingkat yang mendesak. Karena itu, penetapan program MBG pada dua jenjang pendidikan tersebut dapat dianggap sebagai pilihan yang lebih tepat sasaran.
Secara keseluruhan, pemberian MBG yang difokuskan pada SD dan SMP didasarkan pada pertimbangan sederhana: dua jenjang ini adalah masa paling penting dalam tumbuh kembang anak. Dengan memastikan bahwa anak-anak pada usia tersebut mendapatkan gizi yang memadai, pemerintah dapat membantu membentuk generasi yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi jenjang pendidikan berikutnya. Dengan demikian, fokus pada SD–SMP menjadi langkah yang tidak hanya tepat, tetapi juga strategis dalam upaya pembangunan sumber daya manusia ke depan.***








