MEDAN,mimbarnasional – Pertamina Patra Niaga terus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal melalui dukungannya terhadap pelaku UMKM, salah satunya Sakkamadeha Gallery and Workshop yang berada di Desa Lumban Suhi Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.
UMKM berbasis kain ulos itu dinilai menjadi contoh bagaimana warisan budaya lokal dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang berkelanjutan sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Nama Sakkamadeha sendiri berasal dari bahasa Batak yang berarti “Pohon Kehidupan”. Bagi pendirinya, Stella Florensia Hutajulu, filosofi tersebut menjadi semangat untuk menjaga budaya lokal tetap hidup sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Sejak menjadi mitra binaan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut pada 2020, Sakkamadeha terus berkembang dan kini memberdayakan sekitar 70 penenun lokal. Para penenun itu berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, anak muda, hingga perajin tenun dari luar daerah.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan dukungan terhadap Sakkamadeha merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong UMKM berbasis budaya lokal agar tumbuh secara berkelanjutan.
“Melalui rumah produksi di Samosir, Sakkamadeha telah memberdayakan kurang lebih 70 penenun lokal untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan nilai ekonomi berkelanjutan. Ini sejalan dengan komitmen Pertamina dalam mendukung dan memajukan UMKM berbasis kearifan lokal,” kata Fahrougi, Rabu (13/5).
Di galeri yang berada tidak jauh dari kawasan Danau Toba itu, kain ulos tidak hanya dipasarkan dalam bentuk tradisional. Sakkamadeha juga mengembangkan berbagai produk siap pakai seperti pakaian kasual, kemeja, hingga aksesori yang menyasar generasi muda.
“Di galeri ini, kami tidak hanya menjual kain tenun tetapi juga mengolahnya menjadi produk siap pakai seperti pakaian kasual. Hal ini membuat ulos lebih fleksibel digunakan sehari-hari, terutama bagi generasi muda,” ujar Stella.
Saat ini, Sakkamadeha memiliki tiga unit usaha utama, yakni sentra produksi tenun, galeri penjualan produk, dan rumah jahit. Harga produknya pun beragam, mulai dari kain tenun seharga Rp300 ribu hingga Rp2 jutaan, sementara produk jadi seperti kaos dijual mulai Rp50 ribu dan kemeja hingga Rp500 ribu.
Untuk memperluas pasar, Sakkamadeha mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan Facebook melalui akun @Sakkamadeha. Mereka juga rutin melakukan siaran langsung untuk memperkenalkan produk kepada pelanggan yang lebih luas.
Selain pendampingan usaha, Pertamina turut melibatkan Sakkamadeha dalam berbagai pameran dan event nasional, termasuk ajang F1 Powerboat Danau Toba. Langkah itu dilakukan untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkenalkan produk budaya lokal ke tingkat nasional hingga internasional.
Stella berharap dukungan tersebut dapat membantu usaha yang dirintis bersama para penenun lokal terus berkembang.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut yang terus mendukung usaha kecil seperti kami. Harapannya, ke depan kami bisa terus berkembang dan membawa produk lokal ini semakin dikenal, tidak hanya di Sumatera Utara tetapi juga hingga ke pasar global,” tutupnya.
Melalui dukungan terhadap UMKM seperti Sakkamadeha, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyebut terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis budaya sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.(*)







