PABUARAN,mimbarnasional – Di tengah hiruk pikuk politik dan janji pembangunan yang terus bersahutan, ada satu program yang tak banyak bicara tapi menyentuh langsung kehidupan anak-anak Indonesia: Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini bukan sekadar makan siang di sekolah. Ia adalah soal gizi. Soal masa depan. Dan Masril Koto, Komisaris PT Garam (Persero), tahu betul bagaimana program ini seharusnya berjalan.
Dalam perbincangan hangat bersama Adrian “Toaik” Tuswandi, penggagas Top 100 Channel, yang tayang di YouTube Kliksiar TV, Masril bicara lugas. Ia bukan politisi, bukan pengamat, tapi pelaku yang paham medan.
“Ini investasi jangka panjang. Gizi anak menentukan kualitas generasi,” tegas Masril.
Ia tidak bicara teori. Ia bicara dapur — tempat di mana program ini benar-benar hidup. Menurutnya, satu dapur saja bisa menyerap hingga enam tenaga kerja, membeli bahan pangan dari petani sekitar, dan menggairahkan ekonomi lokal. Tapi ia juga menekankan, dapur bukan sekadar tempat masak.
“BPOM jaga standar dapur. Dinkes tentukan takaran gizi sesuai usia dan berat badan,” ujarnya.
Masril juga tak menutup mata terhadap kelemahan di lapangan. Banyak pihak, katanya, datang ke politisi untuk meminta jatah pelaksana, tapi tidak memahami standar dan tanggung jawab besar di balik program ini.
“Ini soal makanan anak-anak. Tak boleh ada kepentingan,” tegasnya.
Masril menilai, Badan Gizi Nasional (BGN) seharusnya menjadi garda terdepan pelaksanaan MBG. BGN, kata dia, perlu turun langsung ke daerah dan membangun model dapur di setiap kabupaten sebelum bicara replikasi skala besar.
Ketika muncul keraguan publik dan isu penyimpangan, Masril tidak defensif. Ia justru mendorong masyarakat ikut mengawasi.
“Kalau ada pelanggaran, laporkan. Jalurnya jelas — KPK, polisi, hukum terbuka. Jangan bully programnya, awasi pelaksanaannya,” ujarnya.
Soal Presiden Prabowo, Masril bicara apa adanya. Ia tak memuja, tapi mengakui ketegasan sang presiden dalam menjalankan program prioritas ini.
“Beliau tak mundur. Kritik boleh, tapi niatnya jelas: memberi makan bergizi untuk anak bangsa,” tutur Masril.
Menutup wawancara, Masril berbicara dengan nada reflektif. Ia mengingat anak-anak yang pergi ke sekolah tanpa sarapan, dan bagaimana masa depan bisa dimulai dari sepiring nasi dengan lauk bergizi.
“Kalau program ini berjalan, kita bukan hanya memberi makan kita sedang menyelamatkan masa depan bangsa,” katanya pelan.
Dan akhirnya, ia menutup dengan pesan yang menohok:
“Jangan biarkan niat baik presiden dikerdilkan oleh tangan-tangan kotor. Ini bukan proyek. Ini legacy.”(ij)







