Kampung Tabek Bangkit: Dari Terpencil Menjadi Mandiri Lewat Program Kampung Berseri Astra

Foto : Pengunjung melihat produksi gula semut aren Kampung Tabek

SOLOK,mimbarnasional – Terpencil, tanpa sarjana, dan jauh dari akses pembangunan. Begitulah wajah Kampung Tabek di masa lalu. Namun kini, desa kecil yang terletak di dataran tinggi 1.200 meter di atas permukaan laut ini menjelma menjadi simbol kemandirian dan inovasi desa, berkat kolaborasi kuat antara masyarakat dan program Kampung Berseri Astra.

Semua bermula dari keterbatasan. Jalan, jembatan, hingga sekolah dibangun secara gotong royong oleh warga, tanpa bantuan negara. Tapi dari keterbatasan itulah muncul kekuatan. “Kami sadar, pendidikan harus menjadi pintu keluar. Dulu tak ada sarjana, sekarang hampir tiap rumah punya,” ujar Kasri Sastra Ketua KBA Talang Babungo.

Bacaan Lainnya

Titik balik terjadi saat Astra hadir melalui program pembinaan desa 8 tahun lalu.Salah satu bentuk dukungan yang paling terasa adalah pendirian Rumah Pintar, bangunan sederhana dari batang aren yang menjadi pusat kegiatan belajar, musyawarah, dan pengembangan karakter warga.

Semangat mandiri itu pun berkembang pesat. Kampung dibagi menjadi 11 zona, masing-masing bertanggung jawab di bidang lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan UMKM. Salah satu produk unggulannya adalah gula semut inovasi dari gula aren dan gula tebu lokal yang kini diproduksi secara modern dan higienis.

Cuti Marwina, perempuan muda berusia 29 tahun, adalah satu dari puluhan warga yang menggantungkan hidup di rumah produksi gula semut milik KBA. “Saya tugasnya mengoven dan meracik.Prosesnya bisa sampai 8 jam. Setiap hari kami produksi 12 kilogram gula,” ungkapnya.

Foto : Cut Marwina sedang bekerja di rumah produksi gula semut

Produk-produk ini kini dipasarkan hingga Padang dan kota-kota lain, dengan harga mencapai Rp150.000 per kilogram.Mendukung semua ini, berdirilah Koperasi Ekonomi Desa KM. Asetnya kini mencapai Rp17 miliar, mengelola pendidikan, kesehatan, hingga pembiayaan usaha warga tanpa harus bergantung pada perbankan.

“Yang kami lakukan bukan sekadar membantu. Kami membina. Potensinya sudah ada di desa, kami hanya bantu menyuburkan,” ujar Ranang perwakilan PT Astra Internasional Tbk.

Kini, Kampung Tabek tak lagi dikenal karena kemiskinan. Ia dikenal sebagai desa mandiri yang berhasil merawat warisan, menjaga semangat, dan memproduksi masa depan.(ij)

Pos terkait