PADANG,mimbarnasional – Jumlah pelanggan kereta api di Sumatera Barat terus meningkat sepanjang 2026. Kondisi ini mendorong KAI Divre II Sumbar memperkuat sistem keselamatan di tengah mobilitas masyarakat yang semakin tinggi.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, KAI Divre II Sumbar mencatat 1.607.214 pelanggan kereta api lokal. Angka tersebut meningkat 19,52 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 1.344.690 pelanggan.
Seiring peningkatan tersebut, KAI menerapkan pendekatan Safety at Scale, yakni memastikan pertumbuhan layanan dan intensitas perjalanan diikuti dengan penguatan pengelolaan risiko di seluruh lini operasional.
“Pertumbuhan mobilitas harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan budaya keselamatan. Ketika jumlah perjalanan dan pelanggan meningkat, maka pengelolaan risikonya juga harus semakin matang,” kata Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, dalam keterangan tertulis, Kamis (24/9/2026).
Menurut Reza, keselamatan tidak dapat hanya mengandalkan satu aspek. Kesiapan infrastruktur, kompetensi sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, disiplin operasi, hingga partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sistem keselamatan perkeretaapian.
Salah satu perhatian utama berada di perlintasan sebidang, yang menjadi titik pertemuan langsung antara perjalanan kereta api dengan aktivitas pengguna jalan.
Di wilayah operasional KAI Divre II Sumbar saat ini terdapat 121 perlintasan sebidang resmi dan 140 perlintasan tidak resmi.
KAI terus melakukan mitigasi risiko, salah satunya melalui penutupan perlintasan tidak resmi yang dinilai membahayakan keselamatan perjalanan kereta api maupun masyarakat.
Sepanjang 2025, sebanyak 18 perlintasan liar telah ditutup. Sementara hingga September 2026, KAI Divre II Sumbar telah menutup 30 titik perlintasan liar.
Upaya keselamatan juga dilakukan melalui edukasi langsung kepada masyarakat. Pada 2025, sosialisasi keselamatan digelar di 128 titik perlintasan sebidang. Sementara sepanjang 2026, kegiatan serupa telah dilakukan di 56 titik.
Edukasi juga menyasar lingkungan sekolah dan lokasi masyarakat lainnya. Pada 2025, sosialisasi dilakukan di 15 lokasi, sedangkan pada 2026 jumlahnya meningkat menjadi 47 lokasi.
KAI juga memperkuat pesan keselamatan melalui pemasangan banner di sejumlah titik rawan kecelakaan. Pada 2025, sebanyak 6 banner keselamatan dipasang, kemudian meningkat menjadi 22 banner pada 2026.
“Pendekatan keselamatan harus dilakukan secara berlapis. Infrastruktur dan fasilitas keselamatan merupakan satu lapisan perlindungan, tetapi lapisan tersebut akan semakin kuat apabila diikuti kepatuhan pengguna jalan dan kesadaran masyarakat untuk tidak menerobos perlintasan,” ujar Reza.
Secara nasional, KAI menetapkan 190 titik prioritas peningkatan keselamatan perlintasan sebidang pada 2026. Titik tersebut tersebar di sembilan Daop dan empat Divre, termasuk wilayah operasional KAI Divre II Sumbar.
Program tersebut meliputi penyediaan gardu, rambu-rambu, peralatan keselamatan dan komunikasi, hingga peningkatan kompetensi dan sertifikasi sumber daya manusia penjaga perlintasan.
Selain itu, KAI Divre II Sumbar memperluas kolaborasi dengan masyarakat melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan atau TJSL. Pada 2026, dukungan CSR telah diberikan di 30 lokasi sebagai bagian dari upaya membangun kepedulian terhadap keselamatan dan lingkungan di sekitar jalur kereta api.
Reza mengingatkan masyarakat agar selalu mengutamakan keselamatan ketika melewati perlintasan sebidang.
“Pengguna jalan wajib berhenti, melihat, dan memastikan tidak ada kereta api yang akan melintas sebelum melewati perlintasan. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas di jalur kereta api maupun area yang menjadi bagian dari ruang manfaat jalur kereta api,” katanya.
KAI Divre II Sumbar memastikan evaluasi, mitigasi risiko, edukasi, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan akan terus dilakukan.
Pertumbuhan jumlah pelanggan dan perjalanan kereta api, menurut KAI, harus berjalan beriringan dengan peningkatan standar keselamatan agar layanan transportasi massal tetap aman dan andal.(*)







