PADANG PARIAMAN,mimbarnasional – Bertambahnya penerbangan internasional dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sumatera Barat, diikuti dengan penguatan pengawasan terhadap lalu lintas komoditas yang dibawa penumpang.
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat menggelar Operasi Patuh Karantina di lingkungan BIM. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Karantina ke-149 Tahun 2026.
Operasi tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan di bandara, mulai dari maskapai penerbangan, Bea dan Cukai, InJourney Airports hingga Kepolisian.
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat, RM Ende Dezeanto, mengatakan peningkatan konektivitas internasional menjadi peluang bagi Sumatera Barat untuk memperluas mobilitas masyarakat, pariwisata, perdagangan, dan aktivitas ekonomi.
Namun, kata dia, meningkatnya pergerakan orang dan barang juga perlu diimbangi dengan pengawasan untuk mencegah masuk dan tersebarnya hama serta penyakit yang dapat mengancam hewan, ikan, tumbuhan, dan sumber daya hayati.
“Bertambahnya penerbangan internasional dari BIM merupakan peluang bagi Sumatera Barat untuk semakin terhubung dengan dunia. Bersamaan dengan itu, pengawasan juga harus diperkuat,” kata Ende dalam keterangannya, Senin (30/9/2026).
Dalam Operasi Patuh tersebut, petugas melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan penumpang, khususnya komoditas hewan, ikan, tumbuhan, serta produk turunannya yang dibawa melalui penerbangan internasional.
Petugas juga memberikan edukasi kepada penumpang mengenai kewajiban melaporkan komoditas yang dibawa serta memastikan seluruh persyaratan karantina telah dipenuhi.
Menurut Ende, pengawasan karantina tidak hanya sebatas pemeriksaan barang. Hal yang tak kalah penting adalah membangun kesadaran masyarakat mengenai risiko dari komoditas yang dibawa masuk maupun keluar wilayah Indonesia.
“Operasi Patuh ini kami jadikan momentum untuk lebih dekat dengan masyarakat. Kami ingin masyarakat memahami bahwa melapor kepada petugas Karantina bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, tetapi merupakan bagian dari upaya bersama untuk melindungi negeri,” ujarnya.
Dia menambahkan, pengawasan di pintu masuk dan keluar negara merupakan kerja bersama. Maskapai mendukung penyampaian informasi kepada penumpang, Bea dan Cukai melakukan pengawasan kepabeanan, InJourney Airports mengelola layanan dan ekosistem bandara, sementara Kepolisian mendukung aspek keamanan dan ketertiban.
Dengan semakin terbukanya akses penerbangan internasional melalui BIM, Karantina Sumatera Barat memastikan pengawasan akan terus diperkuat dengan tetap mengedepankan pelayanan yang humanis.
“Sinergi antara Karantina, airlines, Bea dan Cukai, InJourney Airports, Kepolisian, serta stakeholder lainnya menjadi sangat penting untuk memastikan pintu gerbang internasional kita tetap aman”tutupnya.(*)







