PADANG,mimbarnasional – Rel kereta api di Sumatera Barat yang telah dibangun sejak akhir abad ke-19 dinilai memiliki posisi strategis untuk mendukung penguatan konektivitas perkeretaapian di Pulau Sumatra. Selain menyimpan nilai sejarah, jaringan rel yang masih aktif hingga kini terus dimanfaatkan masyarakat untuk mobilitas harian, pariwisata, hingga distribusi logistik.
Kepala Humas KAI Divre II Sumatera Barat, Reza Shahab, mengatakan sejarah panjang perkeretaapian di Sumbar menjadi modal penting dalam pengembangan transportasi berbasis rel di masa depan.
“Perkeretaapian di Sumatera Barat memiliki nilai strategis, tidak hanya dari sisi sejarah, tetapi juga manfaat yang terus dirasakan masyarakat. Kereta api mendukung mobilitas harian, sektor pariwisata, distribusi logistik, hingga akses menuju bandara. Hal ini menunjukkan transportasi berbasis rel masih memiliki ruang yang sangat besar untuk terus dikembangkan,” kata Reza dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).
Menurut Reza, jalur kereta api di Sumbar awalnya dibangun untuk mengangkut batu bara dari Ombilin menuju Pelabuhan Emmahaven atau yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur. Seiring waktu, jaringan rel berkembang dan menghubungkan sejumlah wilayah, mulai dari Pariaman, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh hingga Sawahlunto, sehingga mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi dan kawasan permukiman.
Saat ini KAI Divre II Sumbar mengelola jaringan rel sepanjang 312,232 kilometer spoor (kmsp). Dari jumlah tersebut, sepanjang 110,910 kmsp merupakan jalur aktif, sedangkan 201,322 kmsp masih berstatus nonaktif.
Operasional kereta api didukung oleh 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun angkutan barang. Untuk layanan penumpang, KAI mengoperasikan KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, dan KA Lembah Anai. Sementara angkutan barang melayani distribusi semen dan klinker pada relasi Indarung–Bukit Putus.
KAI mencatat kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi kereta api terus meningkat. Sepanjang semester pertama 2026, sebanyak 1.140.586 pelanggan menggunakan layanan kereta api di Sumbar. Pada periode yang sama, volume angkutan barang mencapai 556.465 ton, terdiri dari 362.740 ton semen dan 193.725 ton klinker.
Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan juga mengalami pertumbuhan signifikan. Pada 2021, layanan kereta api di Sumbar melayani sekitar 1,09 juta pelanggan. Angka tersebut meningkat menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025 atau tumbuh sekitar 81 persen.
KA Pariaman Ekspres masih menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbanyak. Sementara itu, KA Lembah Anai juga menunjukkan peningkatan penumpang setelah dilakukan penyesuaian relasi perjalanan pada 2026.
Reza menilai besarnya potensi pengembangan perkeretaapian di Sumbar juga didukung oleh sektor pariwisata. Sejumlah destinasi seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi dinilai memiliki peluang untuk semakin terhubung melalui jaringan kereta api.
Selain itu, masih terdapat sejumlah jalur nonaktif yang berpotensi direaktivasi pada masa mendatang, di antaranya Naras–Sungai Limau, Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi, serta Solok–Muaro Kalaban.
“Apabila pengembangan jaringan maupun reaktivasi jalur dapat direalisasikan secara bertahap sesuai perencanaan pemerintah, kami optimistis kereta api akan semakin berperan dalam memperkuat konektivitas antardaerah, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses menuju kawasan wisata, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata,” ujarnya.
Ia menambahkan, KAI Divre II Sumbar siap mendukung pengembangan perkeretaapian sebagai bagian dari pembangunan transportasi nasional yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.(*)







